Musaco.id
- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan bahwa Hari
Guru Nasional (HGN) yang diperingati setiap 25 November menjadi wahana
meneguhkan komitmen seluruh guru Indonesia untuk mendidik anak negeri.
Hal
itu disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir
dalam peringatan HGN tahun ini. Menurutnya, dunia pendidikan Indonesia memang
kompleks dengan segala masalah dan tantangan.
“Dari
Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote begitu beragam
kondisi pendidikan dan situasi anak didik Indonesia, yang tidak dapat digeneralisasi
oleh standar lembaga-lembaga pendidikan Jakarta dan kota-kota besar yang
digdaya,” ujar Haedar Nashir dikutip dalam kompas.com, Rabu (24/11/2021).
Menurut
penulis, Muh Nurrohman yang juga salah satu penggerak Pena Pemuda Muhammadiyah Daerah
Pemalang menjelaskan bahwa, dalam struktur sosial Indonesia modern, Guru
menempati posisi penting di masyarakat, sehingga berkembang jargon, Guru adalah
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Begitu pentingnya guru sejak tahun 1994, setiap 25
November Indonesia memperingati hari Guru.
Modernisasi
masyarakat memang mensyaratkan transformasi ilmu pengetahuan dimana Guru adalah
sumber penting yang menyebarkan pengetahuan dan keahlian kepada murid di
sekolah atau lembaga pendidikan.
Karena
itu Guru dituntut memiliki bekal pengetahuan lebih baik dari para muridnya.
Karena Ilmu pengetahuan terus berkembang para guru juga di tuntut untuk
memutakhirkan ilmu yang dimilikinya.
Jika
gagal mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan akan membuat produk lulusan
pendidikan Indonesia tertinggal dari Negara lain. Bahkan dalam situasi tertentu
bisa membuat pendidikan Indonesia bisa mengalami kemunduran seperti masa pandemi
kemarin jika program belajar-mengajar ditiadakan tapi belajar jarak jauh banyak
yang tidak berjalan. Indikasi kearah itu terlihat dari hasil survei yang
dilakukan Kemendikbud, sebanyak 60 persen guru masih kesulitan melakukan
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagian karena gagap teknologi.
Oleh
karena peningkatan kemampuan Guru menguasasi teknologi informasi semakin
penting apalagi di tengah isu Revolusi industri 4.0 menuntut guru mampu
memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang cepat untuk meningkatkan
kualitas proses belajar mengajar dan mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul.
Pola peningkatan kompetensi guru yang bersifat dua arah juga perlu dilakukan
agar setiap permasalahan dan kendala yang dihadapi guru di daerah dapat
diakomodir untuk kemudian dikaji bersama. Terkait hal ini, peran Kelompok Kerja
Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) perlu dioptimalkan. Upaya
pemberdayaan KKG dan MGMP harus terus dilakukan sehingga tercipta suatu
kolaborasi yang berorientasi pada pengembangan diri guru untuk menghadapi
Revolusi Industri 4.0.
Mengutip
penelitian dari Danik Nuryani1dan Ita Handayani dari Program Pascasarjana
Universitas PGRI; menjelaskan bahwa tantangan seorang pendidik tidak berhenti
pada kemampuan menerapkan teknologi informasi pada proses belajar mengajar akan
tetapi ada 6 kompetensi yang diharapkan dimiliki guru era 4.0 yaitu :
(1)
Membangun pemikiran kritis (Critical Thinking) dan Meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah (Problem solving). Menciptakan konektifitas informasi satu
dengan informasi lain, sehingga akhirnya muncul berbagai perspektif, dan
menemukan solusi dari suatu permasalahan. Kompetensi ini dimaknai kemampuan
menalar, memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara
sistem, menyusun, mengungkapkan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. ini
sangat penting dimiliki peserta didik dalam pembelajaran abad ke 21. Guru era
4.0 harus mampu meramu pembelajaran sehingga dapat mengekspor kompetensi ini
kepada peserta didik.
(2) Communication and collaborative skill (keterampilan
komunikasi dan kolaborasi). kemampuan berbasis teknologi informasi dan
komunikasi yang harus diterapkan guru dalam pembelajaran guna mengkonstruksi
kompetensi komunikasi dan kolaborasi.
(3)
Creativity and innovative skill (keterampilan berpikir kreatif dan inovasi).
Revolusi mengkehendaki peserta didik untuk selalu berpikir kreatif dan
inovatif, ini perlu agar mampu bersaing dan menciptakan lapangan kerja
berbasisi revolusi industry 4.0. Tentu seorang guru harus terlebih dahulu dapat
kreatif dan inovasi agar bisa menularkan kepada peserta didiknya.
(4)
Information and communication technology literacy (Literasi teknologi informasi
dan kominikasi). Literasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi
kewajiban guru 4.0, ini harus dilakukan agar tidak ketinggalan dengan peserta
didik. Literasi Teknologi infomasi dan komunikasi merupakan dasar yang harus
dikuasai agar mampu untuk berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan
inovatif, ketrampilan berkomunikasi dan kolaborasi.
Selain
itu keterampilan mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta terampil
menggunakan teknologi dan informasi. Kemampuan yang harus dimiliki di abad 21
ini meliputi: Leadership, Digital Literacy, Communication, Emotional
Intelligence, Entrepreneurship, Global Citizenship, Problem Solving,
Team-working. Dengan kemampuan Guru menguasai kemampuan di atas dan
mentransfernya ke anak didik diharapkan bisa menghasilkan peserta didik yang
siap bersaing dalam menghadapi revolusi industry 4.0.
(5)
Contextual learning skill. Pembelajaran ini yang sangat sesuai diterapkan guru
4.0 ketika sudah menguasai TIK, maka pembelajaran kontekstual lebih mudah
diterapkan. Saat ini TIK salah satu konsep kontekstual yang harus diketahui
oleh guru, materi pembelajaran berbasis TIK sehingga guru sangat tidak siap
jika tidak memiliki literasi TIK. Materi yang bersifat abstrak mampu disajikan
lebih riil dan kontekstual menggunakan TIK.
(6)
Information and media literacy (literasi informasi dan media). Banyak media
informasi bersifat sosial yang digeluti peserta didik. Media sosial seolah
menjadi media komunikasi yang ampuh digunakan peserta didik dan salah satu
media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan guru 4.0. Kehadiran kelas digital
bersifat media sosial dapat dimanfaatkan guru, agar pembelajaran berlangsung
tanpa terkungkung hanya oleh bangunan gedung sekolah.
Pemberdayaan
KKG dan MGMP dapat dimulai dari pemetaan jumlah dan sebaran KKG dan MGMP di
setiap daerah, memfasilitasi pembentukan KKG dan MGMP di daerah yang belum ada,
membenahi organisasi dan manajemen KKG dan MGMP, serta menyelenggarakan
kegiatan diklat guru model bermutu yang menerapkan recognition of prior
learning yang dibiayai oleh dana bantuan langsung. Pemerintah dapat memberikan
dukungan melalui penyelenggaraan trainee of trainer di daerah, penyediaan
pelatih diklat bersertifikat, dan penyelenggaraan supervisi pemberdayaan KKG
dan MGMP di daerah sesuai rancangan program diklat bermutu.
Akan tetapi,
hemat penulis yang harus diingat di era revolusi industri 4.0 guru sebaiknya
jangan hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa di kelas, namun
tetap memperhatikan pendidikan karakter, moral, dan memberikan keteladanan
kepada siswa. dalam praktik pembelajaran, mencari solusi, merencanakan
pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi proses maupun hasil
pembelajaran. Upaya peningkatan kompetensi guru akan lebih mudah dengan
dukungan e-literasi.
Guru
dapat memanfaatkan e-literasi untuk mencari berbagai informasi yang dibutuhkan.
Informasi yang diperoleh dari internet kemudian diolah, dianalisis sehingga
tercipta informasi baru. Dengan cara di atas diharapkan pemanfaatan e-literasi
akan menambah pengetahuan dan wawasan guru menyongsong era Revolusi Industri
4.0.
0 Comments:
Posting Komentar