'' SD MUSACO : MAJU BERKARAKTER "

Rabu, 03 November 2021

Peran dan Tantangan Muhammadiyah di Era Global


 


 

Tepat tanggal 18 November 2021 nanti, Muhammadiyah menapaki usianya yang ke-109. Bahkan, jika menggunakan kalender Hijriah, usia Muhammadiyah saat ini sudah 109 tahun. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk menyambut Milad Akbar 1 Abad Muhammadiyah, dari silaturahmi milad akbar,konferensi internasional, World Peace Forum (WPF),hingga berbagai diskusi dan pengajian.Banyak spanduk terbentang di berbagai tempat untuk menyambut Milad Akbar 1 Abad dengan tema “Sang Surya Tiada Henti Menyinari Negeri” ini.

 

Tentu, tanpa adanya eksistensi dan komitmen para kadernya, Muhammadiyah akan surut bersama waktu sebagaimana organisasi yang seumur dengannya. Kita bisa membandingkan, misalnya dengan organisasi serupa yang lahir pada tahun-tahun kelahiran Muhammadiyah seperti Syarikat Islam dan Boedi Oetomo.

 

Peran Muhammadiyah

 

Menurut Syafi’iMa’arif (2010), alasan yang paling logis yang menjadikan Muhammadiyah tetap mampu berkiprah dan menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat Islam dan bangsa Indonesia, adalah kecerdikan memilih visi dan misi gerakannya. Ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah, beliau sudah memikirkan dan menekankan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi yang bertumpu pada kekuasaan dan tidak menjadikan kekuasaan sebagi tumpuan dan tujuan gerakannya.

 

Muhammadiyah adalah organisasi sosial keagamaan yang bervisi melakukan khidamah dalam bidang pembaruan keagamaan melalui kiprahnya dalam bidang pendidikan,kesehatan, ekonomi keumatan, dan amal sosial lainnya. Dengan pilihan yang cerdik dan cerdas itu, Muhammadiyah bisa terus bereksistensi dan menyumbangkan sesuatu yang positif bagi pencerdasan dan kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia.

 

Karena itu, kita bisa melihat betapa KH Ahmad Dahlan dengan cerdas mengadopsi sistem pendidikan modern dan tata cara organisasi modern untuk diterapkan di kalangan umat Islam. Dengan menggunakan sistem pendidikan modern yang berbasis pada penyelenggaraan kelas-kelas dan pengenalan baca tulis huruf latin serta tata kelola organisasi itu, umat Islam diharapkan bisa berdiri sama tinggi dan memiliki rasa percaya diri yang sama dengan bangsa Barat dan kaum penjajah yang saat itu mencengkeram Indonesia.

 

Berkaitan dengan itu, menjadi tepat apa yang sering dikemukakan oleh Buya Syafi’i Ma’arif dalam Forum Tanwir Denpasar 2002 tentang perbedaan dakwah dan politik. Menurut Buya Syafi’i: “Politik mengatakan: si A adalah kawan, si B adalah lawan. Dakwah mengoreksi: si A adalah kawan, si B adalah sahabat. Politik cenderung berpecah dan memecah. Dakwah merangkul dan mempersatukan”.

 

Kita bisa membayangkan, bagaimana nasib dan jejak historis Muhammadiyah jika sejak awal memilih jalur politik dibandingkan jalur dakwah dan sosial kemanusiaan. Maka dari itu, pilihan jeli dari KH Ahmad Dahlan dan yang dilanjutkan dengan penuh amanah oleh para kader penerus dan pelangsung cita-cita Muhammadiyah bisa jadi salah satu rahasia kenapa Muhammadiyah terus bisa eksis hingga hari ini.

 

Tantangan Muhammadiyah

 

Perjalanan 100 tahun lebih, Muhammadiyah yang boleh dibilang cukup membanggakan dan kontributif itu, tentu saja tidak secara otomatis akan berulang lagi pada 100 tahun kedua. Jika Muhammadiyah terlalu terlena, atau stagnan dalam menjalankan kiprahnya untuk umat Islam, Indonesia, dan dunia internasional,maka Muhammadiyah tentu akan diam di tempat atau bisa jadi tergulung atau tergeser oleh organisasi lain yang lebih progresif.

 

Maka, Muhammadiyah harus mulai serius memikirkan kira-kira apa tantangan dan peran yang layak diperankan oleh Muhammadiyah dalam era globalisasi ini. Menurut penulis, Muhammadiyah harus terus mendengungkan pentingnya kemandirian umat,pencerahan umat, pencerdasan umat, dan penyejahteraan umat dengan melihat konteks lokal, nasional, dan internasional. Dalam konteks lokal, Muhammadiyah harus membuka diri dan terlibat aktif dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan, peningkatan pendidikan, pengawalan moral kekuasaan,serta penciptaan pemerintahan yang transparan.

 

Karena saat ini era otonomi daerah dan kepemimpinan nasional tampak hanya sibuk beretorika dan memoles citra tanpa bekerja nyata, maka kepemimpinan lokal adalah harapan yang masih mungkin untuk memperbaiki nasib negeri ini. Untuk konteks nasional, dalam situasi negara yang sedang oleng, tanpa ketegasan, serta rakyat yang setiap hari dijejali dengan isu-isu yang berganti-ganti yang sering memusingkan itu, hendaknya Muhammadiyah tetap memperteguh dirinya sebagai kekuatan civil society yang tangguh dan penuh komitmen.

 

Azyumardi Azra (2010) menyatakan, dengan kekuatannya dan jaringan organisasinya yang tersebar di seluruh Indonesia, Muhammadiyah bisa memberikan kontribusi besar pada masyarakat melalui dakwah, pendidikan, penyantunan sosial, pengembangan ekonomi, dan amal usaha lainnya untuk penataan masyarakat yang lebih baik. Dengan peran itu, masyarakat tidak terjebak pada permainan negara dan partai politik yang sering berpurapura membela dan memberdayakan rakyat.

 

Pada tataran internasional, kiprah dan peran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi Islam tentu harus lebih ditingkatkan. Muhammadiyah harus mampu berperan aktif dalam kerja sama dan langkah taktis untuk pembelaan dunia Islam dan penciptaan peradaban baru yang lebih humanis dan berkeadilan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

 

Oleh Muh Nurrohman S.Sos.I

Aktivis Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pemalang

(Guru SD Muhammadiyah 01 Comal)

 


0 Comments:

Posting Komentar

Blogger templates

Blogroll

About

Copyright © SD MUHAMMADIYAH 01 COMAL | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com