Tepat tanggal 18 November 2021 nanti, Muhammadiyah menapaki usianya
yang ke-109. Bahkan, jika menggunakan kalender Hijriah, usia Muhammadiyah saat
ini sudah 109 tahun. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk menyambut Milad
Akbar 1 Abad Muhammadiyah, dari silaturahmi milad akbar,konferensi
internasional, World Peace Forum (WPF),hingga berbagai diskusi dan
pengajian.Banyak spanduk terbentang di berbagai tempat untuk menyambut Milad
Akbar 1 Abad dengan tema “Sang Surya Tiada Henti Menyinari Negeri” ini.
Tentu, tanpa adanya eksistensi dan komitmen para kadernya,
Muhammadiyah akan surut bersama waktu sebagaimana organisasi yang seumur
dengannya. Kita bisa membandingkan, misalnya dengan organisasi serupa yang
lahir pada tahun-tahun kelahiran Muhammadiyah seperti Syarikat Islam dan Boedi
Oetomo.
Peran Muhammadiyah
Menurut Syafi’iMa’arif (2010), alasan yang paling logis yang
menjadikan Muhammadiyah tetap mampu berkiprah dan menyumbangkan sesuatu yang
bermanfaat bagi umat Islam dan bangsa Indonesia, adalah kecerdikan memilih visi
dan misi gerakannya. Ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah,
beliau sudah memikirkan dan menekankan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi yang
bertumpu pada kekuasaan dan tidak menjadikan kekuasaan sebagi tumpuan dan
tujuan gerakannya.
Muhammadiyah adalah organisasi sosial keagamaan yang bervisi
melakukan khidamah dalam bidang pembaruan keagamaan melalui kiprahnya dalam
bidang pendidikan,kesehatan, ekonomi keumatan, dan amal sosial lainnya. Dengan
pilihan yang cerdik dan cerdas itu, Muhammadiyah bisa terus bereksistensi dan
menyumbangkan sesuatu yang positif bagi pencerdasan dan kemajuan umat Islam dan
bangsa Indonesia.
Karena itu, kita bisa melihat betapa KH Ahmad Dahlan dengan cerdas
mengadopsi sistem pendidikan modern dan tata cara organisasi modern untuk
diterapkan di kalangan umat Islam. Dengan menggunakan sistem pendidikan modern
yang berbasis pada penyelenggaraan kelas-kelas dan pengenalan baca tulis huruf
latin serta tata kelola organisasi itu, umat Islam diharapkan bisa berdiri sama
tinggi dan memiliki rasa percaya diri yang sama dengan bangsa Barat dan kaum
penjajah yang saat itu mencengkeram Indonesia.
Berkaitan dengan itu, menjadi tepat apa yang sering dikemukakan
oleh Buya Syafi’i Ma’arif dalam Forum Tanwir Denpasar 2002 tentang perbedaan
dakwah dan politik. Menurut Buya Syafi’i: “Politik mengatakan: si A adalah
kawan, si B adalah lawan. Dakwah mengoreksi: si A adalah kawan, si B adalah
sahabat. Politik cenderung berpecah dan memecah. Dakwah merangkul dan mempersatukan”.
Kita bisa membayangkan, bagaimana nasib dan jejak historis
Muhammadiyah jika sejak awal memilih jalur politik dibandingkan jalur dakwah
dan sosial kemanusiaan. Maka dari itu, pilihan jeli dari KH Ahmad Dahlan dan
yang dilanjutkan dengan penuh amanah oleh para kader penerus dan pelangsung
cita-cita Muhammadiyah bisa jadi salah satu rahasia kenapa Muhammadiyah terus
bisa eksis hingga hari ini.
Tantangan Muhammadiyah
Perjalanan 100 tahun lebih, Muhammadiyah yang boleh dibilang cukup
membanggakan dan kontributif itu, tentu saja tidak secara otomatis akan
berulang lagi pada 100 tahun kedua. Jika Muhammadiyah terlalu terlena, atau
stagnan dalam menjalankan kiprahnya untuk umat Islam, Indonesia, dan dunia
internasional,maka Muhammadiyah tentu akan diam di tempat atau bisa jadi
tergulung atau tergeser oleh organisasi lain yang lebih progresif.
Maka, Muhammadiyah harus mulai serius memikirkan kira-kira apa
tantangan dan peran yang layak diperankan oleh Muhammadiyah dalam era
globalisasi ini. Menurut penulis, Muhammadiyah harus terus mendengungkan
pentingnya kemandirian umat,pencerahan umat, pencerdasan umat, dan
penyejahteraan umat dengan melihat konteks lokal, nasional, dan internasional.
Dalam konteks lokal, Muhammadiyah harus membuka diri dan terlibat aktif dalam
pemberdayaan ekonomi kerakyatan, peningkatan pendidikan, pengawalan moral
kekuasaan,serta penciptaan pemerintahan yang transparan.
Karena saat ini era otonomi daerah dan kepemimpinan nasional tampak
hanya sibuk beretorika dan memoles citra tanpa bekerja nyata, maka kepemimpinan
lokal adalah harapan yang masih mungkin untuk memperbaiki nasib negeri ini.
Untuk konteks nasional, dalam situasi negara yang sedang oleng, tanpa
ketegasan, serta rakyat yang setiap hari dijejali dengan isu-isu yang
berganti-ganti yang sering memusingkan itu, hendaknya Muhammadiyah tetap
memperteguh dirinya sebagai kekuatan civil society yang
tangguh dan penuh komitmen.
Azyumardi Azra (2010) menyatakan, dengan kekuatannya dan jaringan
organisasinya yang tersebar di seluruh Indonesia, Muhammadiyah bisa memberikan
kontribusi besar pada masyarakat melalui dakwah, pendidikan, penyantunan
sosial, pengembangan ekonomi, dan amal usaha lainnya untuk penataan masyarakat
yang lebih baik. Dengan peran itu, masyarakat tidak terjebak pada permainan
negara dan partai politik yang sering berpurapura membela dan memberdayakan
rakyat.
Pada tataran internasional, kiprah dan peran Muhammadiyah sebagai
sebuah organisasi Islam tentu harus lebih ditingkatkan. Muhammadiyah harus
mampu berperan aktif dalam kerja sama dan langkah taktis untuk pembelaan dunia
Islam dan penciptaan peradaban baru yang lebih humanis dan berkeadilan. Wallahu
a’lam bisshawab.
Oleh Muh Nurrohman S.Sos.I
Aktivis Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pemalang
(Guru SD Muhammadiyah 01 Comal)
0 Comments:
Posting Komentar