Musaco.id - Musim hujan telah datang. Agar
mobilitas dari satu tempat ke tempat lain terlindung dari air hujan, setiap
orang beramai ramai mempersiapkan perlengkapan untuk melindungi diri dari air
hujan. Para orangtua juga ikut memikirkan dan mempersiapkan perlengkapan untuk
melindungi anak anak dari air hujan. Tentunya, para orangtua mengingkan
pelindung air hujan yang terbaik untuk anak anaknya.
Payung
atau jas hujan, keduanya merupakan pelindung diri dari air hujan saat mobilitas
dari satu tempat ke tempat lain. Lalu dari keduanya manakah yang terbaik untuk
anak? Ada yang menjawab jas hujan dan adapula yang menjawab payung. Kedua
Jawaban tersebut tidak ada yang salah. Yang salah, jika orangtua memutuskan
pilihan untuk anaknya karena 'ikut ikutan trend'. Melihat model jas hujan
terbaru langsung beli, melihat payung transparan atau motif terbaru langsung
beli. Padahal jika diukur dari tingkat kebutuhan sudah bukan lagi kebutuhan
primer malah menjadi kebutuhan tersier yang dipaksakan menjadi kebutuhan
primer. Kebutuhan tersier yang dipaksakan untuk dipenuhi merupakan sikap boros.
Bukan hanya memunculkan sikap boros tetapi juga akan berdampak buruk pada
pembentukan karakter anak. Anak yang terbiasa dibelikan sesuatu oleh orangtua
karena mengikuti 'arus trend' menjadi anak yang cenderung tidak teguh
pendirian. Mereka mudah untuk dipengaruhi dunia luar.
Lalu,
bagaimana memilih yang terbaik untuk anak; payung atas jas hujan? Orangtua
perlu mentelaah dari berbagai sisi agar tidak salah memilih. Jas hujan memiliki
harga yang lebih mahal dari payung tetapi jas hujan dapat melindungi seluruh
tubuh dari cipratan air. Sedangkan payung memiliki harga yang murah dibanding
jas hujan. Payung memang tidak menutupi seluruh bagian tubuh jika digunakan
pada tingkat mobilitas yang membutuhkan kendaraan. Tetapi jika mobilitas dari
satu tempat ke tempat lain dengan jalan kaki maka pilihan terbaik adalah
payung. Memang orangtua mampu untuk dapat membelikan keduanya, tetapi cobalah
tanamkan pada diri untuk memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan. Jika
hal ini diprioritaskan maka akan berdampak pada pembentukan karakter baik untuk
anak.
Salah
satu contohnya, mobilitas anak dari rumah ke sekolah jalan kaki. Pada musim
hujan, anak mengingkan jas hujan seperti temanya padahal temannya menggunakan
jas hujan karena jarak rumah ke sekolah jauh harus ditempuh menggunakan sepeda.
Jika anak dibiarkan mengikuti temannya menggunakan jas hujan padahal berbeda
kebutuhan yang dibutuhkan pejalan kaki dan orang yang bersepeda maka akan
menimbulkan sikap yang tidak teguh pendirian dan menjadi anak yang lebih
memprioritaskan keinginan dibanding kebutuhan.
Oleh: Ibu Nabila Afdiani Irfana
(Guu Tahfidz Musaco)
0 Comments:
Posting Komentar